Rabu, 21 Maret 2018

Ulasan Teater


Ulasan Teater "Pelajaran"
Teater berjudul “Pelajaran” yang di sutradarai oleh Pak Anton Supriadi merupakan teater pertama yang saya tonton. Cukup banyak yang membuat saya kagum melihat pertunjukan tersebut mulai dari setting panggung, kostum, make up, serta keaktorannya. Pementasan tersebut cukup membekas bagi saya, apalagi teater tersebut bertemakan pendidikan, yang cocok bagi mahasiswa.
Naskah dari teater ini sebenarnya karangan dari Eugene Ionesco yang berjudul The Lesson, ia merupakan penulis drama yang berasal dari Slatina, Provinsi Olt, Rumania yang kemudian dibuatkan versi Indonesia yang berjudul Pelajaran, teater ini dimainkan dengan tema warna hitam dan putih ada juga setting panggung yang sulit dimengerti tetapi sebenarnya bermakna seperti pintu masuk dan jendela yang merupakan simbol dari gerbang pengetahuan, tirai-tirai menyerupai gorden tetapi terdapat tulisan-tulisan yang menyuarakan isi hati atau sikap-sikap mahasiswa. Dengan tata rias orang Spanyol membuat teater tersebut semakin menarik. Lakon ini menceritakan tentang seorang murid yang datang kerumah professornya untuk belajar. Murid tersebut ialah seorang gadis muda yang cantik jelita yang masih muda, dia kelihatan sopan, berpendidikan baik, gadis riang dan lincah yang bertemu dengan seorang profesor laki-laki yang sangat sopan dan pemalu, dia juga sangat tertib dan sikapnya menunjukkan sikap seorang professor. Namun sikapnya yang pemalu tersebut lama-lama mulai lenyap sehingga dia jadi semakin gugup, agresif dan haus akan kekuasaan sehingga dengan sesuka hati dia memerlakukan murid perempuannya ini, murid tersebut pun mulai mengalami tekanan jiwa. Di akhir cerita professor tersebut membunuh muridnya tersebut menggunakan pisau lipat dan hal tersebut merupakan pembunuhan ke 40 kalinya yang telah dilakukan oleh sang professor, kemudian professor dan pembantunya mengangkat tubuh gadis itu dan kemudian mereka berjalan menuju pintu sebelah kanan. Mereka keluar beberapa saat dan mulai memanggil murid berikutnya.
Jika dilihat dari pementasannya, sutradara berhak atas apa yang ingin dipentaskannya dan penonton juga berhak memberikan komentar. Menurut pengamatan saya sendiri, ada adegan yang ingin membuat penonton tertawa tetapi adegan tersebut menjadi canggung dan juga ada adegan pada saat murid tersebut di bunuh oleh professor, murid tersebut terlilit karet dan jatuh dari kursi tempat ia duduk, hal tersebut sempat membuat saya bingung, apakah hal tersebut memang sengaja dilakukan atau ada kesalahan teknis saat penampilan?. aktor yang melakoni sebagai professor juga sepertinya tidak terlalu mendalami perannya, tetapi hal tersebut cukup tertutupi oleh riasan makeup yang membuat ia terlihat seperti layaknya seorang professor, namun masih dipertanyakan apakah memang ada sosok professor yang membuat muridnya tertekan bahkan membunuh muridnya sendiri? Dimana yang kita ketahui sosok professor itu adalah orang yang berpendidikan baik dalam hal mengenai ilmu pengetahuan maupun perilaku. Dalam teater ini juga tersirat makna bahwa seorang professor egois menyebabkan muridnya yang awalnya pandai menjadi mengalami tekanan, hal tersebut memang terjadi di kehidupan sehari-hari seringkali kita bertemu dengan orang-rang yang merasa tertekan dan stress akibat tugas dari dosennya. Demikianlah ulasan saya, kurang dan lebihnya mohon di maafkan. Terimakasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar